Kamis, Oktober 22, 2009

Gratis Apple iPhone 3 GS

Gratis Apple iPhone 3GS, Get Free Apple iPhone 3GS

Posted October 9, 2009
We provide customers with a unique way of receiving the latest product for free via our Customer Reward System.
We provide the the latest Free Mobiles Phones including the Apple iPhone 3GS, Nokia N96, Sony Ericsson C905, BlackBerry Bold, Samsung Omnia and many, many other models!

Sebelum anda melakukan rangkaian proses untuk mendapatkan  secara gratis berbagai produk yang disediakan, silahkan baca terlebih dahulu petunjuk singkat dan praktis di bawah ini, selengkapnya klik disini.

Gratis Game Consoles

Gratis Game Consoles, Get Free Game Consoles

Posted October 9, 2009
We provide customers with a unique way of receiving the latest Gaming Consoles and Games for Free via our Customer Reward System.
We provide hot consoles such as the Nintendo Wii & Sony Playstation 3 for Free! Plus there's more, get a Free Xbox 360, Sony PSP, Nintendo DSi and Free Games for your console too! 

Sebelum anda melakukan rangkaian proses untuk mendapatkan  secara gratis berbagai produk yang disediakan, silahkan baca terlebih dahulu petunjuk singkat dan praktisnya, selengkapnya silahkan klik disini.

Gratis Apple Ipod Nano

Gratis Apple Ipod, Get Free Apple Ipod

Posted October 9, 2009
We provide customers with a unique way of receiving the latest product for free via our Customer Reward System.

We provide the latest MP3 Players such as the Apple iPod Touch, iPod Nano, iPod Classic, Sony WalkmanFree! and more for

Sebelum anda melakukan rangkaian proses untuk mendapatkan  secara gratis berbagai produk yang disediakan, silahkan baca terlebih dahulu petunjuk singkat dan praktisnya, selengkapnya silahkan klik disini.

Gratis HDTV's

Gratis HDTV's, Get Free HDTV's

Posted October 9, 2009
We provide customers with a unique way of receiving the latest product for free via our Customer Reward System. 
We provide the latest Samsung HDTV's and Sony Bravia HDTV's for Free!

Sebelum anda melakukan rangkaian proses untuk mendapatkan  secara gratis berbagai produk yang disediakan, silahkan baca terlebih dahulu petunjuk singkat dan praktisnya, selengkapnya silahkan klik disini.

Jumat, Agustus 28, 2009

SEBUAH PERLAWANAN


STOP DREAMING START ACTION, mengandung makna semangat, perlawanan dan ajakan untuk HENTIKAN BERMIMPI MULAI TINDAKAN. Sebuah perlawanan bagi sebuah kondisi yang statis menuju ke kondisi yang bersifat dinamis dan berkemanfaatan.

Kita memiliki petuah agung yang diwariskan para leluhur dan pejuang-pejuang kita saat meraih kemerdekaan demi harkat dan martabat bangsa ini dengan semboyan rawe-rawe rantas malang-malang putung yang dapat dimaknai dengan arti menghadapi dan melawan segala halangan dan rintangan menjadi sebuah tantangan dengan penuh totalitas meraih kemenangan atau hancur lebur sekalian.

STOP DREAMING START ACTION, merupakan sebuah sikap pergerakan yang menjadi bagian dalam rangka merevolusi diri meraih sukses merdeka dari apa yang dicita-citakan dalam kehidupan. Termaktub sebuah ajakan, semangat dan perlawanan terhadap kungkungan mimpi, kemalasan, takut gagal, kemiskinan, kebodohan dan pembodohan, degradasi moral dan tanggungjawab, perusakan lingkungan hidup maupun sosial, ketidakpedulian dan sebagainya. Be positive thinking now !!!..

Petuah agung rawe-rawe rantas malang-malang putung menegaskan kepada kita bahwa tantangan dalam bentuk rintangan dan halangan merupakan sesuatu yang selalu ada dimanapun, dalam bentuk apapun dan kapanpun, hal ini bersifat natural adanya dalam kehidupan manusia. Semua yang ada tersebut bukan untuk menjadikan kita berhenti dan mundur, melainkan bagaimana kita secara cerdas mampu menempatkan diri (empan papan-jawa) dalam menghadapi situasi tersebut dan menaklukannya. Dalam hal ini jelas bahwa sikap STOP DREAMING START ACTION layak dijadikan sebuah pilihan agar dapat terejawantah dalam aktualisasi real. Meraih Sukses Merdeka merupakan Aminnya belajar dan pembelajaran yang tiada henti.

STOP DREAMING START ACTION dengan menghadapi segala macam bentuk tantangan, melawan rintangan dan menaklukkan halangan bukanlah sekedar kata-kata motivasi. Pada kondisi tertentu hal ini wajib dilakukan, yaitu pada saat kita melakukan sesuatu yang luhur yang sangat penting bagi kehidupan kita. Menjaga dan mempertahankan kehormatan serta martabat keluarga, bangsa dan negara harus menempatkan rawe-rawe rantas malang-malang putung sebagai sesuatu yang bersifat wajib. Martabat dan kehormatan tidak akan tetap tegak berdiri jika masih hidup dalam kungkungan mimpi tanpa aktualisasi real, hentikan mimpi mulai bertindak. Sebab hanya tindakan yang akan memaknai martabat dan kehormatan, baik di negri sendiri maupun di mata negri-negri lain di mata dunia.

STOP DREAMING START ACTION, menempatkan diri kita pada point of no return, titik dimana kita tidak boleh mundur ataupun berbalik arah. Apapun alasannya, hentikan mimpi mulai tindakan, lawan rintangan, taklukan halangan, menangkan pertarungan, jadilah pemenang... Satu hal yang perlu diingat bahwa satu tindakan memberikan kekuatan pada tindakan lainnya, jangan ragu untuk bertindak, stop dreaming start action sekarang juga, inilah yang disebut sebagai The Power of Action. Sekali lagi jangan hanya jadi penonton, jangan hanya jadi pemimpi, jadilah pemain dan pemenang. Lakukan hal ini dalam segala bidang kehidupan, terutama potensi dan keahlian yang anda miliki (arti positif), apakah itu bisnis, pendidikan, organisasi dan lain sebagainya, sekali lagi STOP DREAMING START ACTION.

Berdamai dengan hati, bersatu dengan pikiran, jadikan hidup ini simpel dan tetapkan langkah dalam sebuah perlawanan STOP DREAMING START ACTION NOW !!!!...

Rabu, Agustus 05, 2009

Memaknai Empan Papan



Ndengaren kok dho rame-rame, arep dho nengendhi le (tumben kok pada rame pada mau kemana nak)... simbah bertanya pada anak-anak kecil perdikan yang pagi hari itu terlihat berbondong-bondong, badhe teng kali padhos ulam mbah (mau kesungai cari ikan mbah)... sahut salah satu anak-anak itu. Yo dho seng ati-ati yo, ojo dolanan nenggon seng jero, mbebayani (ya hati-hati jangan main di tempat yang dalam berbahaya)... kalau bercanda yang empan papan ya... nggih mbah (ya mbah)... serempak anak-anak itu menyahut. Sepintas simbah terdiam seakan teringat masa kecilnya dulu juga sering mencari ikan bersama-sama di sungai yang membelah perdikan, sungai yang menghidupi perdikan sampai sekarang.


Sesaat simbah tampak berkemas, memasukkan tembakau dan kelengkapannya ke dalam slepen (wadah tembakau yang terbuat dari anyaman rumput sebesar dompet) dan mengambil caping teman setia simbah. Badhe teng pundhi mbah (mau kemana mbah) tanya cucunya yang kebetulan berada di ruangan itu, arep ndeloke bocah-bocah seng dho nggolek iwak neng kali mburi kono, kuatir ndak dho suloyo le dho dolanan (mau melihat anak-anak yang pada mencari ikan di sungai belakang itu, kuatir pada ceroboh kalau sudah bermain).


Di atas sebuah batu besar yang agak ceper simbah duduk dengan santai, sambil melihat polah tingkah anak-anak tangan melinting tembakau favoritnya. Tahu dilihati oleh simbah anak-anak justru semakin senang dan bersemangat, mereka merasa ada yang menjaga sehingga merasa aman. Simbah memang juga terkenal dekat dengan anak-anak kecil di perdikan, sehingga sudah dianggap seperti simbah mereka sendiri oleh anak-anak.


Horee...aku dapat satu teriak salah satu anak sambil memperlihatkan ikannya, melihat temannya ada yang dapat seakan memacu anak-anak lainnya untuk semakin bersemangat mencari bagaikan lomba tanpa panitia. Dasar anak-anak bermain sambil bercanda, gemuruh tawa dan polah tingkah terkadang lucu. Kadang ada yang usil, bukannya ikut mencari ikan tetapi justru menarik celana temannya sampai hampir lepas. Gelak tawa dan canda sangat riuh pagi itu.


Simbah yang memperhatikan tampak sesekali tertawa menyaksikan. Le di sebelah batu yang agak ngedung itu lho le, coba kamu pasangi perangkapnya, yang mana mbah...itu lho yang dipojokan, deket belokan itu ya mbah...iya sahut simbah membantu anak-anak agar dapat ikan. Maklum simbah sangat pengalaman dalam urusan ini. Tidak begitu lama berselang salah satu anak berteriak, dapat mbah...aku dapat mbah... terlihat senang mendapatkan hasil sambil menunjukkannya ke simbah, gede ya mbah.... sahut anak itu bangga. Pinter koe le... ayo meneh... seakan menyemangati anak-anak, horee... aku juga dapat mbah... yo pinter...pinter... ayo cari lagi, cari di air yang agak tenang di balik batu itu... biasanya ikannya pada di situ le... lagi-lagi simbah membantu anak-anak dengan pengalamannya...


Anak-anak perdikan dengan dunianya yang dekat dan bersahabat dengan alam di sekitar mereka, menyatu dengan tanah yang menghidupi mereka, sebuah potret yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan anak-anak di perkotaan. Iwak’e dileboke kepis le, selehke neng banyu neng ojo nganti kelelep ndak iwak’e ucul (ikannya dimasukkan wadah le, taruh di air tapi jangan sampai tenggelam nanti ikannya lepas)... beres mbahhhh.... sahut anak-anak gembira sambil tetap dengan aktifitas mereka. Ada yang bertugas menggiring, ada yang bertugas menangkap, ada yang bertugas jebar-jebur agar ikannya pindah ke arah yang diinginkan, semu terlihat kompak... tidak ada yang merasa lebih berjasa dibandingkan yang lain, jika ada yang dapat yang lain seakan mengamini dalam kegembiraan, kegembiraan milik mereka bersama betapa sangat bertolak belakang perilaku anak-anak tersebut dengan segelintir oknum pejabat yang sering merasa diri paling dan lebih berjasa dibandingkan lainnya. Seharusnya malu jika berkaca pada anak-anak perdikan itu, tapi yang namanya malu sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan bagi segelintir oknum pejabat, sebab telah digadaikan bersama harga diri.


Serius amat tho mbah...mendadak bedjo sudah duduk di samping simbah... ooo kamu tho djo, itu lho simbah lagi memperhatikan anak-anak yang nyari ikan. Coba kamu lihat djo, disitu ada pelajaran yang bagus bisa diambil dari polah tingkah anak-anak kita itu. Sesaat bedjo memperhatikan dengan seksama... iya ya mbah terlihat kompak seperti sebuah tim, masing-masing menempatkan dirinya sesuai fungsi meski dalam suasana bermain ya mbah... bener djo khan serasi tho?... (bedjo salah satu pemuda perdikan yang ngangsu ilmu di kota alias mahasiswa). Jika kamu perhatikan lagi dengan teliti ada yang lebih lagi dari sekedar kompak djo, coba perhatikan lagi... tampak bedjo memperhatikan sambil mengernyitkan dahi tanda berpikir keras, apa ya yang kira-kira terlihat oleh simbah tapi tidak terlihat olehnya. Tampaknya bedjo harus menyerah dan mengakui kejelian simbah dan diwujudkan dalam pertanyaan, apa ya mbah kok nggak ada?...


He...he...he... berarti kamu perlu mengasah kepekaan dan kejelianmu lagi dalam mengamati suatu keadaan djo. Coba lihat, ada yang menggiring, ada yang menangkap, ada yang membuat gaduh agar ikan pindah ke arah yang diinginkan dan sebaginya. Coba lihat mereka dalam menempatkan diri dan waktu melakukan, seperti nyambung satu sama lain dan tepat waktunya. Apa yang dilakukan sesuai dengan waktu dan tempatnya, itu yang biasa disebut “empan papan” djo... wach iya mbah... bener...bener... bedjo terlihat senang sambil meangkupkan telapak tangan seperti layaknya orang menyembah... ngaku kalah mbah... lah kamu itu ngapain tho kok kayak orang nyembah gitu, simbah protes...lho itu salah satu bentuk wujud pengakuanku mbah... helehh... kaya apa aja kamu ini, simbah protes lagi.... he...he...he... bedjo malah tertawa melihat sikap simbah.


Simbah punya cerita yang berkaitan dengan empan papan itu djo, wach asyik donk mbah, bagaimana ceritanya mbah, jadi penasaran untuk mempelajarinya mbah... Konon dulu ada sebuah padepokan, tempat orang-orang menimba ilmu, baik tentang ilmu kanuragan (bela diri), ilmu pengobatan maupun ilmu-ilmu tentang pengetahuan hakekat dan makna kehidupan. Dipimpin oleh seorang pendhito atau guru yang wawasan dan pengetahuannya bagai samudra, saking dalam dan luasnya.


Suatu saat salah seorang pemuda yang menjadi muridnya mendatangi guru tersebut dan bertanya, “Guru, mengapa orang seperti guru mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan guna menunjukkan status juga untuk banyak tujuan lain, saya kok jadi tidak mengerti”


Sambil tersenyum guru itu melepaskan salah satu cincin yang dikenakan dan berkata, “Akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambil cincin ini dan bawa ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?.”

Melihat cincin sang guru yang kotor, murid tadi merasa ragu, “Satu keping emas?. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu guru.” “Mengapa tidak dicoba dulu, siapa tahu kamu berhasil.”


Murid itu akhirnya bergegas ke pasar, menawarkan cincin itu kepara pedagang yang ada di pasar, mulai dari pedagang kain, sayur, penjual daging dan ikan, dan yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak saja, tentu saja murid itu tak berani menjualnya. Akhirnya ia kembali ke padepokan dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.” Sambil tetap tersenyum arif sang guru berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini, perlihatkan kepada pemiliknya, jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”


Murid itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud dan menawarkan cincin yang dibawanya. Betapa kaget murid itu mendengar harga yang ditawarkan oleh pemilik toko emas tersebut. Bergegas murid tersebut untuk menemui gurunya dan berkata “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas”. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”


Sambil tersenyum sang guru berujar kepada muridnya, seseorang tak bisa dinilai hanya dari pakaiannya. Cuma para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar seperti tadi yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, tidak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas.


Bedjo terlihat sangat serius mendengarkan sambil sesekali mengangguk tanda memahami yang disampaikan simbah. Semua jika dilakukan secara empan papan akan memberikan nilai yang sebenarnya. Berpikir, berkata, berbuat dan bertindak serta menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, dengan demikian memaknainya secara benar. Menilai tidak asal menilai namun memahami kedalaman yang dinilai, tidak hanya dari kulit luarnya saja. Khan sering tho djo apa yang terlihat tidak mencerminkan yang sebenarnya, iya tho... nggih leres mbah (iya benar mbah). Banyak tho terjadi bahwa tampilan luar itu menipu... lha wong jaman sekarang ini banyak yang berperilaku seperti aktor atau aktris jee... Kebiasaan menilai hanya dengan melihat dari kulit luarnya saja akan menyebabkan seringkali terjadi kekeliruan, disangka emas ternyata loyang, dianggap loyang ternyata emas.


Opo le... mendadak simbah menyahut, ikannya dah banyak mbah, kepisnya nggak cukup lagi... lha kalau gitu dipilihi aja le, yang besar-besar saja dibawa, yang kecil-kecil kembalikan kesungai lagi, jadi sungainya tetap ada ikannya le, khan pada seneng tho kalau sungainya banyak ikannya. Yo djo bantuin anak-anak itu memilih ikan yang akan dibawa pulang. Hari ini ada dua pelajaran yang simbah tularkan pada anak-anak dan bedjo. Berperilaku dan berpikir bijak serta kearifan tradisional menjaga kelestarian dan keharmonisan alam, bagian dari berpikir dan bertindak dalam memaknai empan papan.



http://www.bisnis-mesin-uang-internet.com

Sabtu, Agustus 01, 2009

Pemikiran Pojok Cakruk

REKIBLIK ETEKEWER VIII - POJOK CAKRUK PEMIKIRAN


Mbah niki wedang teh paitipun, tasih anget monggo dipun unjuk... (mbah ini minuman teh paitnya, masih hangat silahkan diminum), yo ngger (panggilan kesayangan untuk anak/cucu laki-laki jawa) selehke neng cedak capinge simbah kono ben rodho adhem ndisik (taruh dekat capingnya simbah disitu biar agak dingin dulu). Simbah terlihat mengipas-ngipaskan kaosnya sambil istirahat di bawah pohon nagka samping rumah. Ngger opo ra latihan poli (volley), mboten mbah, rencang-rencang katah ingkang sami dereng wangsul (nggak mbah, teman-teman banyak yang belum pada pulang), ooo...(simbah menyahut).


Ngger selama ini kira-kira kamu sadar nggak kalau manusia itu diberi anugrah yang sangat berharga oleh Gusti Allah, waah apa itu mbah yang dimaksud simbah, si cucu balik bertanya sambil beringsut duduk mendekati simbah. Penyakitmu kui lho ngger (penyakitmu itu lho ngger) kalau ditanya kok malah mbales nanya, he...he...he... lha daripada nanti dijawab ternyata tidak sesuai dengan yang simbah maksud khan malah jadi waton njeplak tho mbah (asal ngomong) sahut si cucu. He...he...he...bener juga yo ngger, tapi khan paling tidak mencoba berpikir dulu, jangan terus langsung nanya tanpa mikir dulu, karena itu menyia-nyiakan anugrah yang simbah maksud diantaranya.


Sejak dilahirkan manusia sudah diberi anugrah sangat berharga oleh Gusti Allah, diantaranya seperti otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun, karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita dan pikiran kita. Apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan bener ra ngger ... inggih mbah leres (benar)...”wach simbah belum dengar nich otaknya Jacko diambil & diedel-edel untuk diteliti, tapi ini diluar konteks maksud simbah, bathin si cucu”.


Diberi anugrah sepasang mata di wajah, agar kita sadar tidak boleh selalu melihat ke belakang, tetapi pandanglah kedepan, pandanglah masa depan. Meski demikian tidak boleh begitu saja melupakan apa yang terjadi di masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan langkah kedepan.


Diberi anugrah sepasang telinga di kanan kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi, untuk keseimbangan. Agar bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah, untuk digunakan sebagai bekal dalam berpikir dan bertindak, ojo gelem pujiane ra gelem kritikane (jangan Cuma mau pujiannya tidak mau kritikannya), itu namanya adigang adigung, dumeh.....


Diberi anugrah sebuah mulut, artinya harus lebih mendengar dan melihat lebih banyak daripada berbicara. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan, ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali. Bicara yang perlu tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya, jangan asal bicara karena itu sama saja istilahnya dengan waton njeplak kakehan contong (asal njeplak kebanyakan omong). Membiasakan diri berbicara yang baik-baik akan membuahkan kedamaian bagi siapa saja.


Diberi anugrah satu hati, mengingatkan kita pada penghargaan, pemberian cinta dan ketulusan, diharapkan berasal dan keluar dari hati yang paling dalam tersebut. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia, sebab jika demikian kamu akan menjadikan hal tersebut ibarat dagang yang menghitung untung rugi, lha kalau sudah begitu tanpa makna namanya ngger. Mencintai dengan tulus tanpa pamrih balasan apapun itulah makna dan hakekat cinta itu. Berilah cinta tanpa meminta balasan, niscaya akan menemukan cinta yang jauh lebih indah, sebab cinta memiliki bahasa dan pergerakannya sendiri yang hanya dapat dipahami oleh cinta itu sendiri.


Oleh sebab itu, jagalah anugrah yang diberikan itu agar tetap bening dan bermakna seperti adanya. Sering dan banyak orang baik secara sadar maupun tidak sadar mengotori anugrah itu, dengan alasan ataupun dalih penghargaan, kesuksesan, kehormatan dan sebagainya. Padahal dalam kehidupan ini banyak contoh mudah bisa dilihat tanpa mengotori anugrah tersebut diantaranya :

Memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik. Menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif yang baik. Memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu untuk tidak marah-marah (bagi perempuan khususnya). Menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat. Sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja. Sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.


Ngger kalau manusia itu hidup dengan menjaga hati, otak, mata, telinga dan mulut sesuai dengan makna dan hakekat yang Gusti Allah berikan, nggak akan terjadi yang namanya TKW ditelantarkan sampai hidup di kolong jembatan di negri orang, ataupun disiksa oleh manusia yang berstatus majikan, kasak-kusuk dan intrik mengelola kawulo negri dan sebagainya. Apalagi jika di tambah Iman yang baik, bakalan setan nggak punya bolo di dunia ngger....


Wach mbah... kalau semua orang sudah seperti yang simbah maksud, lha terus bolone iblis, setan lan seceesnya siapa mbah?... lha terus neraka statusnya dipailit atau bangkrut mbah, he...he...he... Ternyata pikiranmu mletik juga ngger, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi paling tidak berusaha untuk tetap memegang makna dan hakekat anugrah itu, dengan demikian sudah sangat berarti bagi kehidupan ini. Lha perkara bolonya iblis dan setan wong banyak manusia justru lebih memilih jadi bolonya je... dibandingkan jadi anaknya Gusti Allah, buktinya lihat tuch banyak orang yang lebih memilih jalan pintas untuk meraih tujuannya, tidak peduli dengan nilai-nilai caranya, ya tho?...


Di dunia ini seabrek-abrek orang pinter ngger, namun sangat minim orang mengerti. Lha orang pinter itu sukanya minteri dan ngapusi jee... Negrine kancamu Rekiblik Etekewer itu bisa dijadikan koco benggolo, nggak usah jauh-jauh. Dah yo waktunya makan, nanti dicariin sama simbah putri, kalau sudah makan dilanjut lagi obrolannya, monggo mbah nderekaken....

Rabu, Juli 29, 2009

Suksesi Kepemimpinan

REKIBLIK ETEKEWER VII - PEMIMPIN ITU PELAYAN


Suasana di perdikan Guyubrukun pagi ini terlihat begitu hidup dan semarak. Terlihat umbul-umbul terpasang berjejer rapi di kiri kanan jalan yang menuju perdikan Guyubrukun, pertanda adanya hajatan perdikan. Masyarakat begitu antusias saling bergotongroyong mempercantik lingkungan mereka, ada yang mencari bambu untuk tiang umbul-umbul, ada yang sibuk membuat pagar dan mengecat agar terlihat seragam dan bersih. Tidak ketinggalan Balai Perdikan sebagai sentrum kegiatan terlihat ramai dipenuhi masyarakat. Hal yang sangat menarik disini meski Balai Perdikan dipadati orang namun tidak satupun yang terlihat menganggur, masing-masing memiliki aktifitas sendiri-sendiri dan sepertinya otomatis tanpa diperintah, menunjukkan betapa tingginya tingkat kesadaran, kebersamaan dan rasa memiliki.


Budaya gotong royong terlihat sangat kental, kaum muda berbagi tugas menyiapkan panggung dan soundsistem, ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan dan minuman, para pemudi sibuk membuat pernik-pernik penghias panggung, semua sibuk dengan aktifitas masing-masing, semua ingin memberikan sumbangsihnya bagi tanah perdikan mereka.


Menjelang sore segala persiapan selesai, terlihat beberapa orang yang ditunjuk sebagai koordinator kegiatan melakukan pengecekan akhir, barangkali masih ada hal yang dipandang kurang atau terlewat, pada saatnya nanti diharapkan acara dapat berlangsung dengan lancar. Simbah sebagai sesepuh perdikanpun tidak ketinggalan melakukan pengecekan sambil memberi semangat para panitia yang ditunjuk. Budaya gotong royong yang sudah mendarah daging terejawantah dalam guyubnya memikul tanggungjawab bersama, tidak terlihat sedikitpun perselisihan dan saling menyalahkan.


Lepas maghrib simbah sudah siap dan rapi, dengan berpakaian sorjan dan udeng-udeng kepala, tidak lupa keris terselip di belakang pinggang, bentuk kearifan tradisional yang sangat kental. Le... sudah siap belum, simbah memanggil cucu kesayangannya, sampun mbah (sudah mbah), lha monggo dalem nderekaken (mari saya persilahkan). Simbah yang usianya sudah senja itu berjalan dengan gagah beriringan dengan cucunya, sembari sesekali menyapa orang yang berpapasan dengan ramah dan penuh senyum. Benar-benar menunjukkan sebagai sosok orangtua yang ramah dan berwibawa, pantas saja kawulo perdikan sangat menghormati, menyegani dan menyayangi simbah sampai sekarang sebagai mantan lurah mereka.


Setiba di Balai Perdikan simbah uluk salam dan disambut uluran salam dari para hadirin yang sudah hadir. Setelah tiba waktunya, pembawa acara mulai membuka acara, dilanjutkan acara demi acara sampai akhirnya pada acara puncak malam itu yaitu syukuran yang diisi dengan doa bersama. Sebelum doa, pembawa acara memohon simbah sebagai sesepuh tanah perdikan memberikan sepatah untaian kata sebagai pengantar.


Saudara-saudara sekalian, malam ini kita berkumpul bersama-sama di sini untuk mengucapkan Puji Syukur kehadirat Gusti Allah, atas ijin, perkenan dan kasih-NYA kita beberapa waktu yang lalu sudah selesai melaksanakan pemilihan pemimpin tanah perdikan yang kita cintai ini. Segala sesuatu berjalan dengan lancar, baik, damai dan penuh kekeluargaan. Mari tetap kita pertahankan dan pupuk budaya gotongroyong dan saling guyub selama ini, mari kita tanamkan dalam diri kita dan anak cucu kita bahwa kita di sini sebagai sesama kawulo perdikan adalah satu keluarga besar yang harus tetap saling membantu, menjaga, mengasuh, mengasihi dan mengingatkan satu dengan lainnya.


Ibarat tubuh jika ada salah satu anggota bagian tubuh yang sakit, bagian lainnya juga tentu merasakan sakit juga. Oleh sebab itu, malam ini kita bersama-sama bermaksud mengungkapkan Puji Syukur itu kehadirat Gusti Allah akan apa yang sudah boleh kita rasakan dan alami ini, agar tanah perdikan tempat kita hidup dan menghidupi kita ini senantiasa diberkati oleh Gusti Allah Yang Maha Agung, Amin...


Marilah kita bersama-sama mempersiapkan hati kita yang tulus dan pikiran kita yang bersih untuk siap masuk kehadirat Gusti Allah. Ubo rampenya sudah siap semua tho ngger? (simbah bertanya sambil berpaling pada ketua pelaksana), sampun mbah... tumpeng, gudangan, kulup, krecek, peyek dan lain-lain semuanya sudah jangkep mbah. Kalau begitu mari dilanjutkan acaranya, monggo bagi yang sudah ditunjuk untuk memimpin doa saya persilahkan, sebelumnya ijinkan saya mengucapkan banyak terimakasih atas sumbangsih sederek sedoyo (saudara semua) dan kehadirannya pada malam ini, waktu saya kembalikan kepada pembawa acara.


Kata pengantar simbah cukup singkat dan sangat bermakna sekali, jika dicermati dengan seksama begitu dalam makna pesan yang disampaikan, ditengah peradaban yang semakin deras melaju, namun kearifan tradisional yang luhur tetap teguh dijalankan beriring dan saling melengkapi dengan peradaban baru yang ada, bukan untuk saling dipertentangkan. Memulai sesuatu dengan mohon petunjuk Gusti Allah, selesai mengungkapkan Puji Syukur kehadirat Gusti Allah. Mengajarkan pada kita semua bahwa yang memiliki hak dan kuasa itu hanya Gusti Allah.


Meski simbah dipandang sebagai orang yang punya posisi dalam strata kemasyarakatan di tanah perdikan ini namun tetap dengan kerendahan hati mengucapkan terimakasih, sebagai bentuk menghargai sumbangsih yang sudah diberikan oleh segenap kawulo perdikan, hal ini menunjukkan keluhuran budi yang patut dicontoh dan dijadikan panutan (lha wong orang biasanya kalau posisinya sudah di atas apalagi berkuasa biasanya malah adigang adigung tho...)

Selesai acara doa, tumpeng dipotong beserta ubo rampe dibagi-bagikan untuk dimakan bersama, pemandangan yang benar-benar guyub diseling gelak tawa orang-orang saling bercanda. Saat acara selesai masing-masing membawa bingkisan makanan dalam besek (wadah dari anyaman bambu) untuk dibawa pulang. Sebelum para hadirin bubar, ketua pelaksana tidak lupa mengingatkan hadirin bahwa besok pagi acara puncak pelantikan pemimpin baru Lurah Perdikan Guyubrukun, hadirin mohon mempersiapkan diri untuk acara besok. Tanpa dikomando serempak hadirin menjawab nggeh (iya).... diseling celetukan beda dari para pemudanya yang menjawab kompak siiiaaapppp......


Malam ini tanah Perdikan Guyubrukun terlihat hening dan damai namun ada sedikit yang berbeda terutama di Balai Perdikan suasananya terang benderang tidak seperti biasanya. Para pemuda yang mendapat tugas jaga sesekali memukul kentongan untuk hiburan dengan nada bertalu dan berirama, terkadang terdengar kocak. Sebagian yang lain keliling perdikan melakukan kontrol seperti biasa, bergantian. Tidak terlihat wajah susah dan kecewa, semua wajah sumringah dan senang walaupun kepenatan mendera mereka.


Subuh seperti biasa simbah sudah mulai dengan aktifitas rutinnya, memberi makan ternak dan burung peliharaan, mengeluarkan dari kandang untuk ditambatan dibawah pohon, sangkar perkutut dikeluarkan satu persatu dicantelkan di teras seperti biasanya. Setelah semua selesai simbah mulai siap-siap membersihkan diri untuk menghadiri acara pelantikan lurah pagi nanti. Le kamu mau berangkat bareng simbah atau duluan, saya duluan ya mbah karena mau bantu-bantu menyiapkan dan menata tempat untuk acara nanti, jawab cucu kesayangannya... ya sudah kalau begitu, kamu duluan saja, karena tenaga dan pikiranmu juga dibutuhkan untuk membantu. Monggo mbah saya berangkat duluan... cucu pamitan, ya... jawab simbah, jangan lupa di cek lagi itu son...son...son apa le namanya?... ooo soundsistem mbah, ya jangan lupa dicek agar nanti tidak masalah suaranya, nggeh mbah...


Pagi ini simbah mengenakan pakaian sorjan, blangkon, keris berikut semua kelengkapannya sebagai bentuk kehadirannya pada suatu acara resmi. Sambil menghisap tembakau lintingan klembak menyan simbah melangkah dengan tenang menuju Balai Perdikan, masih tampak jelas kewibawaan simbah sebagai mantan lurah. Badhe teng mbale mbah? (mau ke balai mbah) salah seorang tetangga menyapa, nggih... lha monggo sareng-sareng (iya..mari bersama-sama) simbah membalas sapaan dengan penuh sopan, monggo mbah kulo derekaken (mari mbah saya iringi). Simbah dan pak Bedjo tampak beriringan sesekali terdengar gelak tawa entah apa yang sedang mereka perbincangkan penuh keakraban.


Waktu kian merambat siang, acara demi acara berjalan dengan khidmat dan lancar. Tibalah waktunya untuk kita bersama mendengarkan dan menyimak nasihat dari sesepuh perdikan yang kita cintai ini, kepada simbah monggo waktu dan tempat kami persilahkan.


Simbah melangkah ke panggung dengan tenang, penuh seksama menyapa hadirin semua dengan uluk salam... Para saudaraku hadirin yang sangat saya sayangi, hari ini tanah perdikan memasuki babak baru perjalanan kedepan. Setelah beberapa waktu lalu kita semua sibuk dengan pelaksanaan pemilihan pemimpin dengan suasana yang penuh kekeluargaan dan gotong royong, akhirnya terpilihlah seorang pemimpin pilihan kita bersama yaitu saudara Subayud (angger = sebutan kesayangan untuk laki-laki jawa). Hal yang sangat membahagiakan bahwa perdikan ini telah berhasil menjalankan alih generasi kepemimpinan dengan baik, seperti kita lihat sekarang. Saudara Subayud adalah sosok generasi muda milik perdikan ini, diharapkan semangat dan energi generasi mudanya mampu mewarnai perdikan ini dengan hal positif dan lebih maju lagi. Tentunya dengan tidak meninggalkan kearifan tradisional yang berjalan dengan baik selama ini. Hidup guyub, rukun, saling kekeluargaan dan gotong royong adalah roh yang menghidupi perdikan kita selama ini, dasar yang harus tetap dipegang teguh oleh siapapun yang memimpin perdikan.


Menjadi seorang pemimpin berarti siap menjadi pelayan kawulo yang dipimpinnya, ojo malah njaluk dilayani (jangan malah minta dilayani). Menjadi seorang pemimpin berarti siap memegang amanat dan menjalankan amanat tersebut dengan penuh rasa pengabdian yang tulus. Seorang pemimpin juga ibarat pintu rejeki bagi kawulonya, oleh sebab itu tetaplah selalu membuka pintu rejeki itu agar kawulo yang dipimpin dapat merasakan kehidupan yang sejahtera, makmur dan berkeadilan. Jangan sekali-kali menutup pintu rejeki dan penghidupan orang lain, karena itu merupakan perbuatan keji dan sangat dibenci oleh Gusti Allah, bukankah rejeki seseorang yang berhak mengaturnya hanya Gusti Allah?... Jangan terus njuk sakwise njabat lan kuoso malah adigang adigung adiguno (setelah menjabat dan berkuasa malah sewenang-wenang dan menggunakan kesempatan dalam arti negatif), itu namanya mengkhianati amanat dan hati kawulo. Jangan pernah sekalipun menjadi pengkhianat amanat kawulo, ingat itu ngger Subayud.

Seorang pemimpin juga ibarat sebuah wadah besar, siap menanggung beban , keluh kesah, kesulitan para kawulonya, siap berkorban untuk kawulonya dan sebagainya. Menjadi pemimpin yang benar dan lurus memang sulit dan teramat sulit, lha kalau sekedar jadi pimpinan itu gampang lha wong tinggal mrintah je.. pimpinan dan pemimpin itu beda, pimpinan dibatasi waktu formal sedangkan pemimpin itu tidak dibatasi waktu formal, kapanpun, saat apapun selalu berlaku. Berdasar kemampuan formal dan kepinteran seseorang bisa jadi pimpinan, tapi belum tentu bisa menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin selain memiliki kemampuan tetapi juga jiwa dan hati, sehingga segala tindak tanduk, perilaku dan perbuatan, pikiran dan perasaannya mampu dijadikan panutan, mampu memberikan kedamaian, mampu menggerakkan, mampu memberi jalan keluar, mampu berkorban, mampu merasakan apa yang dirasakan kawulonya dan sebagainya. Pemimpin itu jauh dari sikap adigang adigung adiguno sehingga tanpa disadari olehnya ada rasa nyaman, tentrem dan damai yang dirasakan kawulonya jika berada dekat sang pemimpin tersebut.


Pesan saya untuk Angger Subayud, pimpinan itu orang pinter, tetapi pemimpin itu orang ngerti, paham tho ngger maksudnya?... nggih mbah sahut lurah baru, jadilah seorang pemimpin yang memiliki hati yang mengerti dan bijaksana, pemimpin yang berpengertian dan berhikmat, tulus rela mengabdi dan berkorban demi kawulonya secara adil, niscaya berkat Gusti Allah tidak akan pergi darimu dan tanah perdikan yang kita cintai ini. Akhir kata selamat mengemban amanat, kami akan selalu bersamamu dalam menjalankan amanat, dan kami yang para orang tua-tua ini juga akan selalu mengawasimu jika kamu melencengkan amanat yang diberikan.


Selamat bertugas, sejahterakan kawulo, makmurkan perdikan, ciptakan selalu kedamaian dan ketentraman, bangun tanah perdikan tercinta ini dengan budaya gotong royong dan semangat mudamu, Gusti Allah pasti bersama kita selalu, Amin....



Selasa, Juli 21, 2009

ORDE KISRUH PARA CAKIL

REKIBLIK ETEKEWER VI – SIMPATI UNTUK KORBAN TRAGEDI JW MARRIOT & RITZ CARLTON


Masyaallah le…. Ada apa tho mbah kok pagi-pagi sudah nyebut gitu. Lha apa kamu tidak tahu apa le di negri temanmu Rekiblik Etekewer sedang terjadi tragedi kemanusiaan gitu lho… Hari di mana saudara-saudara kita yang umat muslim menata hati untuk siap-siap sholat bersama di siang nanti telah diciderai dengan perbuatan biadab dari orang yang sudah mati mata hatinya. Hari yang mestinya dipenuhi dengan kekhusyukan malah dikotori dengan kegaduhan yang menyayat hati manusia (bagi manusia yang merasa masih memiliki hati)…. Masyaallah, oalah Gusti … berilah pengertian.


Simbah tidak habis pikir, peradaban semakin berkembang dan maju, manusia semakin terasah budi dan akal pikirannya, tentunya sikap perilaku dan perbuatan manusia itu semakin berkembang lebih beradab tho… bukan malah menjadi biadab. Perbuatan biadab yang dilakukan oleh manusia tersebut alangkah lebih rendahnya jika dibandingkan dengan binatang. Simbah jadi berpikir apa peradaban ini yang mundur atau manusianya yang gagap menyesuaikan peradaban ya le?... Terlepas apakah yang dijadikan dasar alasan dan pembenaran pemahamannya, yang pasti perbuatan ngebom yang dilakukan itu adalah sebuah tindakan biadab yang tidak berperikemanusiaan. Bagaimana tidak, lha wong yang jadi korban adalah orang-orang yang tidak tahu menahu dan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah.


Lha iya lho mbah, baru saja ada tragedi yang memilukan eh malah ada elit yang mengeluarkan pernyataan yang semakin membuat gaduh hati para kawulo. Bagaimana tidak lho mbah, pernyataannya berkesan menuduh lawan politik yang katanya sich mbah berdasar pada data telik sandi dan berkaitan dengan hajatan besar beberapa waktu lalu yang telah usai, ini khan malah jadi dagelan topeng ra katokan tho mbah (dagelan topeng tidak bercelana). He…he…he… istilahmu itu lho le kok ya ada saja lho…


Terlepas data atau tetek bengeknya, mbok ya o dalam situasi tragedi yang memiris hati seperti saat ini mbok ya kalau mengeluarkan pernyataan itu yang hati-hati dan empan papan (sesuai sikond), agar bisa ngademke (menenangkan) kawulo, sambil mengajak segenap komponen untuk bersatu padu dalam memberantas perbuatan biadab sebagai musuh bersama negri, wujud dari bentuk keprihatinan bersama tentang apa yang baru dialami negri rekiblik Etekewer. Kawulo menjadi adem dan turut bersama-sama bergandengan tangan membantu kerja para petugasnya demi negri, dengan apapun sebagai wujud sumbangsih pada negri, apakah informasi atau yang lainnya ya mbah.


Lha runyamnya lagi mbah, itu yang namanya juru contong (jubir) malah ikut-ikutan asal njeplak (asal ngomong), bagaimana tidak, pengalaman dalam hal tersebut tidak punya tapi sok tahu, jadinya ya itu mbah asal njeplak byaaarrr… mendingan temenku mbah punya istilah cerete wes umup, the’e wes dadhi warunge garek dibuka byaakkk… (air di ceret sudah mendidih, tehnya sudah jadi, warungnya tinggal dibuka byaakkk…) setelah itu akan memberi manfaat pada banyak orang, minimal orang yang haus bisa pesen minum dan sebagainya. Beda sama juru contong tadi, waton muni (asal bunyi), waton njeplak (asal ngomong) ujung-ujungnya malah menimbulkan rasa tidak simpati dan neg bagi kawulo, apa dipikirnya kawulo ini bodoh apa ya mbah... apa dipikirnya kawulo ini tidak bisa mengurai masalah apa ya mbah… sudah gitu ngotot lagi nyontongnya, kesannya kok kaya tidak punya budaya malu, sudah salah ngotot lagi. He…he…he… kui jenenge wong keblinger le, ngerti keliru neng ra gelem ngakoni kelirune (itu namanya orang keblinger le, tahu keliru tapi tidak mau ngakui kekeliruannya).


Kujur kebacut tur kebangeten le, lha di saat kejadian itu kan semua mata dunia mengarahkan pandangannya ke negri Rekiblik Etekewer tho le, minimal ingin tahu apa yang terjadi dan seterusnya akan bertanya tentang pengelolaan keamanan negri, lha kalau di tambah dengan pernyataan yang membuat gaduh seperti itu semakin jatuh lagi ini negri di mata dunia. Kalau tidak salah ada tamu ngetop yang mau datang terus nggak jadi khan le?... Ooo itu lho mbah perkumpulan balbalan yang ngetop di luar sana rencananya mau datang untuk tanding dengan perkumpulan balbalannya negri Rekiblik Etekewer, tapi ya itu tadi nggak jadi datang karena ada yang keburu mbledhos (meletus). Wach tambah runyam itu le kalau begitu.


Kalau simbah amati di negri Rekiblik Etekewer itu kok malah yang suka berulah elit dan petingginya ya le, apa di negri itu pada dipimpin cakil-cakil yang sukanya metakil apa le… ada istilah drakula segala je.. apa ya kawulo negri itu termasuk drakula-drakula juga tho le… He..he..he… simbah ini bisa saja lho, yang mimpin ya tetap manusia seperti kita juga mbah, nggak tahu kalau perilakunya, ya mungkin saja mbah perilakunya pada seperti cakil (raksasa). Lha iya lho kalau simbah perhatikan kok malah petingginya yang pada usreg, ngusregki kawulonya alias ngisruhi thok. Apa ordenya sudah berubah nama menjadi orde kisruh ya le…. ha....ha...ha.... (simbah ketawa dengan istilahnya sendiri).


Otak pelaku tindakan biadab ini kalau tidak salah khan warganegara Jaran tho, dulu yang satu sudah mati, tinggal satu, kok ya petinggi Rekiblik Etekewer tidak ada yang bersikap bagaimana gitu, apakah sikap pernyataan keras terhadap negri Jaran karena warganegaranya sudah merusak negri Rekiblik Etekewer, anehnya kok bukan di negrinya saja dia melakukan. Harus ada pernyataan tegas sikap politik negri Rekiblik Etekewer untuk meminta pertanggungjawaban negri Jaran !!!... Disini dibutuhkan orang yang berani mengambil sikap demi kaedaulatan dan martabat rekiblik, pertanyaannya berani tidak itu petingginya.


Balik maning nang topik, simbah jadi bertanya-tanya, kalau memang benar para aparatnya sudah punya data hasil telik sandi lha kok nggak segera diambil tindakan secara tegas, paling tidak khan kejadian yang memilukan itu bisa dicegah tho le... lha dagelannya sudah kejadian kok malah ngungkap data rahasia ada drakulanya segala. Validitas datanya bagaimana? (wuuiiikkk simbah rada modern bahasanya...), jangan-jangan itu data ABS alias bapak senang saja wach khan malah runyam le. Runyam bagi yang mengeluarkan pernyataan dan runyam bagi kawulo yang mendengarnya. Bagaimana tidak, kalau data yang masuk dan dijadikan acuan itu sampah lha yang keluar nanti juga sampah tho?..


Bukankah kalau tidak salah setiap para petinggi itu khan punya penasihat tho le, ya kayak di perdikan kita ini. Kalau penasihatnya sengkuni semua khan ya kasihan petingginya tho, bukannya mengangkat malah menjerumuskan, gawat itu le. Kayanya perlu dikontruksi ulang para penasihatnya, dipilih, dipilah dengan cermat dan hati-hati agar jangan menjadi bumerang.

Sejarah sudah membuktikan bahwa seorang petinggi akan jatuh bukan karena orang yang jauh seperti lawan politiknya, melainkan karena orang-orang terdekatnya, biasanya memerankan diri seperti sengkuni dan berkonspirasi secara diam-diam demi keuntungan pribadinya (diam-diam bahasanya simbah boleh juga nich....)


Kalau menurut simbah, langkah bijaksana dan mendesak harus dilakukan adalah dinginkan gemuruh hati kawulo, rangkul segenap komponen negri baik kawan maupun lawan politik untuk bersama-sama memberantas perilaku-perilaku biadab para teroris agar tidak hidup di negri Rekiblik Etekewer. Perintahkan para perangkat dan aparatnya untuk bekerja lebih keras lagi, ajak kawulo untuk proaktif minimal informasi-informasi yang berguna dalam rangka menuntaskan penyelesaian masalah tersebut. Publikasikan sampai kepelosok-pelosok orang-orang yang dicurigai terlibat dan sebagai kelompok pelaku, beri alamat jelas untuk pengiriman informasi. Lakukan secara terus menerus sehingga negri bersih dari tindakan dan kelompok teroris.


Tidak kalah pentingnya bersihkan juga para petugas dan aparat-aparat korup dari negri sehingga kawulo merasa tidak sia-sia memberikan sumbangsih dan menjadi semakin peduli untuk proaktif bersama-sama menanggulangi. Karena mental-mental korup ini juga diantaranya yang menghambat kepentingan negri. Ciptakan wajah ramah para pelaku publik service (simbah nglondho lagi nich...) sehingga kawulo tidak segan-segan untuk menyampaikan segala permasalahan yang berkaitan dengan masalah apapun, dengan demikian akan terjalin kerjasama yang baik dalam pengelolaan negri (wwwuuuiikkk... simbah mulai mengeluarkan khasanah nglondhonya)


Yo le kita doakan semoga Rekiblik Etekewer diparingi (diberi) Gusti Allah hati yang mengerti dan petingginya diberi jalan terang, hikmat dan kebijaksanaan agar dapat menyelesaikan masalah dengan adem tapi selesai tuntas, agar segala tindakan dan pernyataan empan papan, agar kawulo menjadi tenang, citra negri kembali terangkat di mata dunia.


Kita doakan juga agar para elit dan petingginya tidak menjadi sosok-sosok pengisruh sehingga tidak menjelma menjadi orde kisruh, kasihan kawulo, dengan demikian ketenangan dan kedamaian itu boleh nyata dirasakan dan dinikmati oleh segenap komponen kawulo dan negri.

Jika menjadi pemimpin jadilah pemimpin yang bijaksana dan berhikmat, perilaku yang santun untuk digugu dan ditiru, bersikap dan bertindak tegas, berani berkorban untuk kawulonya (jangan sebaliknya). Menjamin ketenangan dan kedamaian segenap kawulo untuk menyembah Gusti Allah dengan cara dan keyakinannya masing-masing, bukan malah ada orang beribadah untuk menyembah Gusti Allah diosak-asik (kacaukan), jika ada yang seperti ini pemimpin tersebut harus bertindak tegas dan berantas perilaku-perilaku yang suka memberhalakan pembenaran kelompok dan golongannya tersebut, jangan justru dibiarkan saja karena ini bisa jadi bibit yang tidak baik dalam berbangsa dan bernegara, terlepas alasan dan dalih apapun. Sebab yang mempunyai hak menilai benar tidaknya ibadah dan keimanan seseorang hanya Gusti Allah saja yang punya hak, dan itu mutlak hak Gusti Allah, manusia tidak punya hak (lha wong masih pada tidak tahu kaplingnya di surga atau neraka tho?). Jika siap seperti di atas silahkan jadi pemimpin, pemimpin yang baik akan membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi segenap kawulo negri, ingat segenap bukan sebagian !!!.


Peradaban manusia tidak pernah surut kebelakang melainkan semakin maju kedepan, maknai peradaban itu dengan perilaku-perilaku beradab (bukan menyelesaikan masalah dengan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan), santun, hati yang berpengertian dan berakhlak mulia, sebagai sesama manusia ciptaan Gusti Allah yang memiliki hak yang sama akan kehidupan di hadapan Gusti Allah.


Wong urip kui mung mampir ngombe lan sak dremo nglakoni (orang hidup itu ibarat mampir minum dan cuma sekedar menjalani), dadhio wong kang utomo (jadilah manusia utama).


http://www.bisnis-mesin-uang-internet.com