Tampilkan postingan dengan label rekiblik etekewer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekiblik etekewer. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 05, 2009

Memaknai Empan Papan



Ndengaren kok dho rame-rame, arep dho nengendhi le (tumben kok pada rame pada mau kemana nak)... simbah bertanya pada anak-anak kecil perdikan yang pagi hari itu terlihat berbondong-bondong, badhe teng kali padhos ulam mbah (mau kesungai cari ikan mbah)... sahut salah satu anak-anak itu. Yo dho seng ati-ati yo, ojo dolanan nenggon seng jero, mbebayani (ya hati-hati jangan main di tempat yang dalam berbahaya)... kalau bercanda yang empan papan ya... nggih mbah (ya mbah)... serempak anak-anak itu menyahut. Sepintas simbah terdiam seakan teringat masa kecilnya dulu juga sering mencari ikan bersama-sama di sungai yang membelah perdikan, sungai yang menghidupi perdikan sampai sekarang.


Sesaat simbah tampak berkemas, memasukkan tembakau dan kelengkapannya ke dalam slepen (wadah tembakau yang terbuat dari anyaman rumput sebesar dompet) dan mengambil caping teman setia simbah. Badhe teng pundhi mbah (mau kemana mbah) tanya cucunya yang kebetulan berada di ruangan itu, arep ndeloke bocah-bocah seng dho nggolek iwak neng kali mburi kono, kuatir ndak dho suloyo le dho dolanan (mau melihat anak-anak yang pada mencari ikan di sungai belakang itu, kuatir pada ceroboh kalau sudah bermain).


Di atas sebuah batu besar yang agak ceper simbah duduk dengan santai, sambil melihat polah tingkah anak-anak tangan melinting tembakau favoritnya. Tahu dilihati oleh simbah anak-anak justru semakin senang dan bersemangat, mereka merasa ada yang menjaga sehingga merasa aman. Simbah memang juga terkenal dekat dengan anak-anak kecil di perdikan, sehingga sudah dianggap seperti simbah mereka sendiri oleh anak-anak.


Horee...aku dapat satu teriak salah satu anak sambil memperlihatkan ikannya, melihat temannya ada yang dapat seakan memacu anak-anak lainnya untuk semakin bersemangat mencari bagaikan lomba tanpa panitia. Dasar anak-anak bermain sambil bercanda, gemuruh tawa dan polah tingkah terkadang lucu. Kadang ada yang usil, bukannya ikut mencari ikan tetapi justru menarik celana temannya sampai hampir lepas. Gelak tawa dan canda sangat riuh pagi itu.


Simbah yang memperhatikan tampak sesekali tertawa menyaksikan. Le di sebelah batu yang agak ngedung itu lho le, coba kamu pasangi perangkapnya, yang mana mbah...itu lho yang dipojokan, deket belokan itu ya mbah...iya sahut simbah membantu anak-anak agar dapat ikan. Maklum simbah sangat pengalaman dalam urusan ini. Tidak begitu lama berselang salah satu anak berteriak, dapat mbah...aku dapat mbah... terlihat senang mendapatkan hasil sambil menunjukkannya ke simbah, gede ya mbah.... sahut anak itu bangga. Pinter koe le... ayo meneh... seakan menyemangati anak-anak, horee... aku juga dapat mbah... yo pinter...pinter... ayo cari lagi, cari di air yang agak tenang di balik batu itu... biasanya ikannya pada di situ le... lagi-lagi simbah membantu anak-anak dengan pengalamannya...


Anak-anak perdikan dengan dunianya yang dekat dan bersahabat dengan alam di sekitar mereka, menyatu dengan tanah yang menghidupi mereka, sebuah potret yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan anak-anak di perkotaan. Iwak’e dileboke kepis le, selehke neng banyu neng ojo nganti kelelep ndak iwak’e ucul (ikannya dimasukkan wadah le, taruh di air tapi jangan sampai tenggelam nanti ikannya lepas)... beres mbahhhh.... sahut anak-anak gembira sambil tetap dengan aktifitas mereka. Ada yang bertugas menggiring, ada yang bertugas menangkap, ada yang bertugas jebar-jebur agar ikannya pindah ke arah yang diinginkan, semu terlihat kompak... tidak ada yang merasa lebih berjasa dibandingkan yang lain, jika ada yang dapat yang lain seakan mengamini dalam kegembiraan, kegembiraan milik mereka bersama betapa sangat bertolak belakang perilaku anak-anak tersebut dengan segelintir oknum pejabat yang sering merasa diri paling dan lebih berjasa dibandingkan lainnya. Seharusnya malu jika berkaca pada anak-anak perdikan itu, tapi yang namanya malu sudah tidak ada lagi dalam kamus kehidupan bagi segelintir oknum pejabat, sebab telah digadaikan bersama harga diri.


Serius amat tho mbah...mendadak bedjo sudah duduk di samping simbah... ooo kamu tho djo, itu lho simbah lagi memperhatikan anak-anak yang nyari ikan. Coba kamu lihat djo, disitu ada pelajaran yang bagus bisa diambil dari polah tingkah anak-anak kita itu. Sesaat bedjo memperhatikan dengan seksama... iya ya mbah terlihat kompak seperti sebuah tim, masing-masing menempatkan dirinya sesuai fungsi meski dalam suasana bermain ya mbah... bener djo khan serasi tho?... (bedjo salah satu pemuda perdikan yang ngangsu ilmu di kota alias mahasiswa). Jika kamu perhatikan lagi dengan teliti ada yang lebih lagi dari sekedar kompak djo, coba perhatikan lagi... tampak bedjo memperhatikan sambil mengernyitkan dahi tanda berpikir keras, apa ya yang kira-kira terlihat oleh simbah tapi tidak terlihat olehnya. Tampaknya bedjo harus menyerah dan mengakui kejelian simbah dan diwujudkan dalam pertanyaan, apa ya mbah kok nggak ada?...


He...he...he... berarti kamu perlu mengasah kepekaan dan kejelianmu lagi dalam mengamati suatu keadaan djo. Coba lihat, ada yang menggiring, ada yang menangkap, ada yang membuat gaduh agar ikan pindah ke arah yang diinginkan dan sebaginya. Coba lihat mereka dalam menempatkan diri dan waktu melakukan, seperti nyambung satu sama lain dan tepat waktunya. Apa yang dilakukan sesuai dengan waktu dan tempatnya, itu yang biasa disebut “empan papan” djo... wach iya mbah... bener...bener... bedjo terlihat senang sambil meangkupkan telapak tangan seperti layaknya orang menyembah... ngaku kalah mbah... lah kamu itu ngapain tho kok kayak orang nyembah gitu, simbah protes...lho itu salah satu bentuk wujud pengakuanku mbah... helehh... kaya apa aja kamu ini, simbah protes lagi.... he...he...he... bedjo malah tertawa melihat sikap simbah.


Simbah punya cerita yang berkaitan dengan empan papan itu djo, wach asyik donk mbah, bagaimana ceritanya mbah, jadi penasaran untuk mempelajarinya mbah... Konon dulu ada sebuah padepokan, tempat orang-orang menimba ilmu, baik tentang ilmu kanuragan (bela diri), ilmu pengobatan maupun ilmu-ilmu tentang pengetahuan hakekat dan makna kehidupan. Dipimpin oleh seorang pendhito atau guru yang wawasan dan pengetahuannya bagai samudra, saking dalam dan luasnya.


Suatu saat salah seorang pemuda yang menjadi muridnya mendatangi guru tersebut dan bertanya, “Guru, mengapa orang seperti guru mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan guna menunjukkan status juga untuk banyak tujuan lain, saya kok jadi tidak mengerti”


Sambil tersenyum guru itu melepaskan salah satu cincin yang dikenakan dan berkata, “Akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambil cincin ini dan bawa ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?.”

Melihat cincin sang guru yang kotor, murid tadi merasa ragu, “Satu keping emas?. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu guru.” “Mengapa tidak dicoba dulu, siapa tahu kamu berhasil.”


Murid itu akhirnya bergegas ke pasar, menawarkan cincin itu kepara pedagang yang ada di pasar, mulai dari pedagang kain, sayur, penjual daging dan ikan, dan yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak saja, tentu saja murid itu tak berani menjualnya. Akhirnya ia kembali ke padepokan dan melapor, “Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak.” Sambil tetap tersenyum arif sang guru berkata, “Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini, perlihatkan kepada pemiliknya, jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian.”


Murid itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud dan menawarkan cincin yang dibawanya. Betapa kaget murid itu mendengar harga yang ditawarkan oleh pemilik toko emas tersebut. Bergegas murid tersebut untuk menemui gurunya dan berkata “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas”. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”


Sambil tersenyum sang guru berujar kepada muridnya, seseorang tak bisa dinilai hanya dari pakaiannya. Cuma para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar seperti tadi yang menilai demikian. Namun tidak bagi pedagang emas. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses, tidak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas.


Bedjo terlihat sangat serius mendengarkan sambil sesekali mengangguk tanda memahami yang disampaikan simbah. Semua jika dilakukan secara empan papan akan memberikan nilai yang sebenarnya. Berpikir, berkata, berbuat dan bertindak serta menempatkan sesuatu sesuai tempatnya, dengan demikian memaknainya secara benar. Menilai tidak asal menilai namun memahami kedalaman yang dinilai, tidak hanya dari kulit luarnya saja. Khan sering tho djo apa yang terlihat tidak mencerminkan yang sebenarnya, iya tho... nggih leres mbah (iya benar mbah). Banyak tho terjadi bahwa tampilan luar itu menipu... lha wong jaman sekarang ini banyak yang berperilaku seperti aktor atau aktris jee... Kebiasaan menilai hanya dengan melihat dari kulit luarnya saja akan menyebabkan seringkali terjadi kekeliruan, disangka emas ternyata loyang, dianggap loyang ternyata emas.


Opo le... mendadak simbah menyahut, ikannya dah banyak mbah, kepisnya nggak cukup lagi... lha kalau gitu dipilihi aja le, yang besar-besar saja dibawa, yang kecil-kecil kembalikan kesungai lagi, jadi sungainya tetap ada ikannya le, khan pada seneng tho kalau sungainya banyak ikannya. Yo djo bantuin anak-anak itu memilih ikan yang akan dibawa pulang. Hari ini ada dua pelajaran yang simbah tularkan pada anak-anak dan bedjo. Berperilaku dan berpikir bijak serta kearifan tradisional menjaga kelestarian dan keharmonisan alam, bagian dari berpikir dan bertindak dalam memaknai empan papan.



http://www.bisnis-mesin-uang-internet.com

Sabtu, Agustus 01, 2009

Pemikiran Pojok Cakruk

REKIBLIK ETEKEWER VIII - POJOK CAKRUK PEMIKIRAN


Mbah niki wedang teh paitipun, tasih anget monggo dipun unjuk... (mbah ini minuman teh paitnya, masih hangat silahkan diminum), yo ngger (panggilan kesayangan untuk anak/cucu laki-laki jawa) selehke neng cedak capinge simbah kono ben rodho adhem ndisik (taruh dekat capingnya simbah disitu biar agak dingin dulu). Simbah terlihat mengipas-ngipaskan kaosnya sambil istirahat di bawah pohon nagka samping rumah. Ngger opo ra latihan poli (volley), mboten mbah, rencang-rencang katah ingkang sami dereng wangsul (nggak mbah, teman-teman banyak yang belum pada pulang), ooo...(simbah menyahut).


Ngger selama ini kira-kira kamu sadar nggak kalau manusia itu diberi anugrah yang sangat berharga oleh Gusti Allah, waah apa itu mbah yang dimaksud simbah, si cucu balik bertanya sambil beringsut duduk mendekati simbah. Penyakitmu kui lho ngger (penyakitmu itu lho ngger) kalau ditanya kok malah mbales nanya, he...he...he... lha daripada nanti dijawab ternyata tidak sesuai dengan yang simbah maksud khan malah jadi waton njeplak tho mbah (asal ngomong) sahut si cucu. He...he...he...bener juga yo ngger, tapi khan paling tidak mencoba berpikir dulu, jangan terus langsung nanya tanpa mikir dulu, karena itu menyia-nyiakan anugrah yang simbah maksud diantaranya.


Sejak dilahirkan manusia sudah diberi anugrah sangat berharga oleh Gusti Allah, diantaranya seperti otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin apapun, karena tidak akan ada satu orang pun yang bisa mencuri otak kita dan pikiran kita. Apa yang kita pikirkan dalam otak kita jauh lebih berharga dari pada emas dan perhiasan bener ra ngger ... inggih mbah leres (benar)...”wach simbah belum dengar nich otaknya Jacko diambil & diedel-edel untuk diteliti, tapi ini diluar konteks maksud simbah, bathin si cucu”.


Diberi anugrah sepasang mata di wajah, agar kita sadar tidak boleh selalu melihat ke belakang, tetapi pandanglah kedepan, pandanglah masa depan. Meski demikian tidak boleh begitu saja melupakan apa yang terjadi di masa lalu sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan langkah kedepan.


Diberi anugrah sepasang telinga di kanan kiri, supaya kita bisa mendengarkan semuanya dari dua buah sisi, untuk keseimbangan. Agar bisa mengumpulkan pujian dan kritik dan menyeleksi mana yang benar dan mana yang salah, untuk digunakan sebagai bekal dalam berpikir dan bertindak, ojo gelem pujiane ra gelem kritikane (jangan Cuma mau pujiannya tidak mau kritikannya), itu namanya adigang adigung, dumeh.....


Diberi anugrah sebuah mulut, artinya harus lebih mendengar dan melihat lebih banyak daripada berbicara. Berhati-hatilah dengan apa yang kita ucapkan, ucapan yang menyakitkan sangat sulit ditarik kembali. Bicara yang perlu tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya, jangan asal bicara karena itu sama saja istilahnya dengan waton njeplak kakehan contong (asal njeplak kebanyakan omong). Membiasakan diri berbicara yang baik-baik akan membuahkan kedamaian bagi siapa saja.


Diberi anugrah satu hati, mengingatkan kita pada penghargaan, pemberian cinta dan ketulusan, diharapkan berasal dan keluar dari hati yang paling dalam tersebut. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia, sebab jika demikian kamu akan menjadikan hal tersebut ibarat dagang yang menghitung untung rugi, lha kalau sudah begitu tanpa makna namanya ngger. Mencintai dengan tulus tanpa pamrih balasan apapun itulah makna dan hakekat cinta itu. Berilah cinta tanpa meminta balasan, niscaya akan menemukan cinta yang jauh lebih indah, sebab cinta memiliki bahasa dan pergerakannya sendiri yang hanya dapat dipahami oleh cinta itu sendiri.


Oleh sebab itu, jagalah anugrah yang diberikan itu agar tetap bening dan bermakna seperti adanya. Sering dan banyak orang baik secara sadar maupun tidak sadar mengotori anugrah itu, dengan alasan ataupun dalih penghargaan, kesuksesan, kehormatan dan sebagainya. Padahal dalam kehidupan ini banyak contoh mudah bisa dilihat tanpa mengotori anugrah tersebut diantaranya :

Memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik. Menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif yang baik. Memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu untuk tidak marah-marah (bagi perempuan khususnya). Menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat. Sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja. Sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.


Ngger kalau manusia itu hidup dengan menjaga hati, otak, mata, telinga dan mulut sesuai dengan makna dan hakekat yang Gusti Allah berikan, nggak akan terjadi yang namanya TKW ditelantarkan sampai hidup di kolong jembatan di negri orang, ataupun disiksa oleh manusia yang berstatus majikan, kasak-kusuk dan intrik mengelola kawulo negri dan sebagainya. Apalagi jika di tambah Iman yang baik, bakalan setan nggak punya bolo di dunia ngger....


Wach mbah... kalau semua orang sudah seperti yang simbah maksud, lha terus bolone iblis, setan lan seceesnya siapa mbah?... lha terus neraka statusnya dipailit atau bangkrut mbah, he...he...he... Ternyata pikiranmu mletik juga ngger, memang tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi paling tidak berusaha untuk tetap memegang makna dan hakekat anugrah itu, dengan demikian sudah sangat berarti bagi kehidupan ini. Lha perkara bolonya iblis dan setan wong banyak manusia justru lebih memilih jadi bolonya je... dibandingkan jadi anaknya Gusti Allah, buktinya lihat tuch banyak orang yang lebih memilih jalan pintas untuk meraih tujuannya, tidak peduli dengan nilai-nilai caranya, ya tho?...


Di dunia ini seabrek-abrek orang pinter ngger, namun sangat minim orang mengerti. Lha orang pinter itu sukanya minteri dan ngapusi jee... Negrine kancamu Rekiblik Etekewer itu bisa dijadikan koco benggolo, nggak usah jauh-jauh. Dah yo waktunya makan, nanti dicariin sama simbah putri, kalau sudah makan dilanjut lagi obrolannya, monggo mbah nderekaken....

Rabu, Juli 29, 2009

Suksesi Kepemimpinan

REKIBLIK ETEKEWER VII - PEMIMPIN ITU PELAYAN


Suasana di perdikan Guyubrukun pagi ini terlihat begitu hidup dan semarak. Terlihat umbul-umbul terpasang berjejer rapi di kiri kanan jalan yang menuju perdikan Guyubrukun, pertanda adanya hajatan perdikan. Masyarakat begitu antusias saling bergotongroyong mempercantik lingkungan mereka, ada yang mencari bambu untuk tiang umbul-umbul, ada yang sibuk membuat pagar dan mengecat agar terlihat seragam dan bersih. Tidak ketinggalan Balai Perdikan sebagai sentrum kegiatan terlihat ramai dipenuhi masyarakat. Hal yang sangat menarik disini meski Balai Perdikan dipadati orang namun tidak satupun yang terlihat menganggur, masing-masing memiliki aktifitas sendiri-sendiri dan sepertinya otomatis tanpa diperintah, menunjukkan betapa tingginya tingkat kesadaran, kebersamaan dan rasa memiliki.


Budaya gotong royong terlihat sangat kental, kaum muda berbagi tugas menyiapkan panggung dan soundsistem, ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan dan minuman, para pemudi sibuk membuat pernik-pernik penghias panggung, semua sibuk dengan aktifitas masing-masing, semua ingin memberikan sumbangsihnya bagi tanah perdikan mereka.


Menjelang sore segala persiapan selesai, terlihat beberapa orang yang ditunjuk sebagai koordinator kegiatan melakukan pengecekan akhir, barangkali masih ada hal yang dipandang kurang atau terlewat, pada saatnya nanti diharapkan acara dapat berlangsung dengan lancar. Simbah sebagai sesepuh perdikanpun tidak ketinggalan melakukan pengecekan sambil memberi semangat para panitia yang ditunjuk. Budaya gotong royong yang sudah mendarah daging terejawantah dalam guyubnya memikul tanggungjawab bersama, tidak terlihat sedikitpun perselisihan dan saling menyalahkan.


Lepas maghrib simbah sudah siap dan rapi, dengan berpakaian sorjan dan udeng-udeng kepala, tidak lupa keris terselip di belakang pinggang, bentuk kearifan tradisional yang sangat kental. Le... sudah siap belum, simbah memanggil cucu kesayangannya, sampun mbah (sudah mbah), lha monggo dalem nderekaken (mari saya persilahkan). Simbah yang usianya sudah senja itu berjalan dengan gagah beriringan dengan cucunya, sembari sesekali menyapa orang yang berpapasan dengan ramah dan penuh senyum. Benar-benar menunjukkan sebagai sosok orangtua yang ramah dan berwibawa, pantas saja kawulo perdikan sangat menghormati, menyegani dan menyayangi simbah sampai sekarang sebagai mantan lurah mereka.


Setiba di Balai Perdikan simbah uluk salam dan disambut uluran salam dari para hadirin yang sudah hadir. Setelah tiba waktunya, pembawa acara mulai membuka acara, dilanjutkan acara demi acara sampai akhirnya pada acara puncak malam itu yaitu syukuran yang diisi dengan doa bersama. Sebelum doa, pembawa acara memohon simbah sebagai sesepuh tanah perdikan memberikan sepatah untaian kata sebagai pengantar.


Saudara-saudara sekalian, malam ini kita berkumpul bersama-sama di sini untuk mengucapkan Puji Syukur kehadirat Gusti Allah, atas ijin, perkenan dan kasih-NYA kita beberapa waktu yang lalu sudah selesai melaksanakan pemilihan pemimpin tanah perdikan yang kita cintai ini. Segala sesuatu berjalan dengan lancar, baik, damai dan penuh kekeluargaan. Mari tetap kita pertahankan dan pupuk budaya gotongroyong dan saling guyub selama ini, mari kita tanamkan dalam diri kita dan anak cucu kita bahwa kita di sini sebagai sesama kawulo perdikan adalah satu keluarga besar yang harus tetap saling membantu, menjaga, mengasuh, mengasihi dan mengingatkan satu dengan lainnya.


Ibarat tubuh jika ada salah satu anggota bagian tubuh yang sakit, bagian lainnya juga tentu merasakan sakit juga. Oleh sebab itu, malam ini kita bersama-sama bermaksud mengungkapkan Puji Syukur itu kehadirat Gusti Allah akan apa yang sudah boleh kita rasakan dan alami ini, agar tanah perdikan tempat kita hidup dan menghidupi kita ini senantiasa diberkati oleh Gusti Allah Yang Maha Agung, Amin...


Marilah kita bersama-sama mempersiapkan hati kita yang tulus dan pikiran kita yang bersih untuk siap masuk kehadirat Gusti Allah. Ubo rampenya sudah siap semua tho ngger? (simbah bertanya sambil berpaling pada ketua pelaksana), sampun mbah... tumpeng, gudangan, kulup, krecek, peyek dan lain-lain semuanya sudah jangkep mbah. Kalau begitu mari dilanjutkan acaranya, monggo bagi yang sudah ditunjuk untuk memimpin doa saya persilahkan, sebelumnya ijinkan saya mengucapkan banyak terimakasih atas sumbangsih sederek sedoyo (saudara semua) dan kehadirannya pada malam ini, waktu saya kembalikan kepada pembawa acara.


Kata pengantar simbah cukup singkat dan sangat bermakna sekali, jika dicermati dengan seksama begitu dalam makna pesan yang disampaikan, ditengah peradaban yang semakin deras melaju, namun kearifan tradisional yang luhur tetap teguh dijalankan beriring dan saling melengkapi dengan peradaban baru yang ada, bukan untuk saling dipertentangkan. Memulai sesuatu dengan mohon petunjuk Gusti Allah, selesai mengungkapkan Puji Syukur kehadirat Gusti Allah. Mengajarkan pada kita semua bahwa yang memiliki hak dan kuasa itu hanya Gusti Allah.


Meski simbah dipandang sebagai orang yang punya posisi dalam strata kemasyarakatan di tanah perdikan ini namun tetap dengan kerendahan hati mengucapkan terimakasih, sebagai bentuk menghargai sumbangsih yang sudah diberikan oleh segenap kawulo perdikan, hal ini menunjukkan keluhuran budi yang patut dicontoh dan dijadikan panutan (lha wong orang biasanya kalau posisinya sudah di atas apalagi berkuasa biasanya malah adigang adigung tho...)

Selesai acara doa, tumpeng dipotong beserta ubo rampe dibagi-bagikan untuk dimakan bersama, pemandangan yang benar-benar guyub diseling gelak tawa orang-orang saling bercanda. Saat acara selesai masing-masing membawa bingkisan makanan dalam besek (wadah dari anyaman bambu) untuk dibawa pulang. Sebelum para hadirin bubar, ketua pelaksana tidak lupa mengingatkan hadirin bahwa besok pagi acara puncak pelantikan pemimpin baru Lurah Perdikan Guyubrukun, hadirin mohon mempersiapkan diri untuk acara besok. Tanpa dikomando serempak hadirin menjawab nggeh (iya).... diseling celetukan beda dari para pemudanya yang menjawab kompak siiiaaapppp......


Malam ini tanah Perdikan Guyubrukun terlihat hening dan damai namun ada sedikit yang berbeda terutama di Balai Perdikan suasananya terang benderang tidak seperti biasanya. Para pemuda yang mendapat tugas jaga sesekali memukul kentongan untuk hiburan dengan nada bertalu dan berirama, terkadang terdengar kocak. Sebagian yang lain keliling perdikan melakukan kontrol seperti biasa, bergantian. Tidak terlihat wajah susah dan kecewa, semua wajah sumringah dan senang walaupun kepenatan mendera mereka.


Subuh seperti biasa simbah sudah mulai dengan aktifitas rutinnya, memberi makan ternak dan burung peliharaan, mengeluarkan dari kandang untuk ditambatan dibawah pohon, sangkar perkutut dikeluarkan satu persatu dicantelkan di teras seperti biasanya. Setelah semua selesai simbah mulai siap-siap membersihkan diri untuk menghadiri acara pelantikan lurah pagi nanti. Le kamu mau berangkat bareng simbah atau duluan, saya duluan ya mbah karena mau bantu-bantu menyiapkan dan menata tempat untuk acara nanti, jawab cucu kesayangannya... ya sudah kalau begitu, kamu duluan saja, karena tenaga dan pikiranmu juga dibutuhkan untuk membantu. Monggo mbah saya berangkat duluan... cucu pamitan, ya... jawab simbah, jangan lupa di cek lagi itu son...son...son apa le namanya?... ooo soundsistem mbah, ya jangan lupa dicek agar nanti tidak masalah suaranya, nggeh mbah...


Pagi ini simbah mengenakan pakaian sorjan, blangkon, keris berikut semua kelengkapannya sebagai bentuk kehadirannya pada suatu acara resmi. Sambil menghisap tembakau lintingan klembak menyan simbah melangkah dengan tenang menuju Balai Perdikan, masih tampak jelas kewibawaan simbah sebagai mantan lurah. Badhe teng mbale mbah? (mau ke balai mbah) salah seorang tetangga menyapa, nggih... lha monggo sareng-sareng (iya..mari bersama-sama) simbah membalas sapaan dengan penuh sopan, monggo mbah kulo derekaken (mari mbah saya iringi). Simbah dan pak Bedjo tampak beriringan sesekali terdengar gelak tawa entah apa yang sedang mereka perbincangkan penuh keakraban.


Waktu kian merambat siang, acara demi acara berjalan dengan khidmat dan lancar. Tibalah waktunya untuk kita bersama mendengarkan dan menyimak nasihat dari sesepuh perdikan yang kita cintai ini, kepada simbah monggo waktu dan tempat kami persilahkan.


Simbah melangkah ke panggung dengan tenang, penuh seksama menyapa hadirin semua dengan uluk salam... Para saudaraku hadirin yang sangat saya sayangi, hari ini tanah perdikan memasuki babak baru perjalanan kedepan. Setelah beberapa waktu lalu kita semua sibuk dengan pelaksanaan pemilihan pemimpin dengan suasana yang penuh kekeluargaan dan gotong royong, akhirnya terpilihlah seorang pemimpin pilihan kita bersama yaitu saudara Subayud (angger = sebutan kesayangan untuk laki-laki jawa). Hal yang sangat membahagiakan bahwa perdikan ini telah berhasil menjalankan alih generasi kepemimpinan dengan baik, seperti kita lihat sekarang. Saudara Subayud adalah sosok generasi muda milik perdikan ini, diharapkan semangat dan energi generasi mudanya mampu mewarnai perdikan ini dengan hal positif dan lebih maju lagi. Tentunya dengan tidak meninggalkan kearifan tradisional yang berjalan dengan baik selama ini. Hidup guyub, rukun, saling kekeluargaan dan gotong royong adalah roh yang menghidupi perdikan kita selama ini, dasar yang harus tetap dipegang teguh oleh siapapun yang memimpin perdikan.


Menjadi seorang pemimpin berarti siap menjadi pelayan kawulo yang dipimpinnya, ojo malah njaluk dilayani (jangan malah minta dilayani). Menjadi seorang pemimpin berarti siap memegang amanat dan menjalankan amanat tersebut dengan penuh rasa pengabdian yang tulus. Seorang pemimpin juga ibarat pintu rejeki bagi kawulonya, oleh sebab itu tetaplah selalu membuka pintu rejeki itu agar kawulo yang dipimpin dapat merasakan kehidupan yang sejahtera, makmur dan berkeadilan. Jangan sekali-kali menutup pintu rejeki dan penghidupan orang lain, karena itu merupakan perbuatan keji dan sangat dibenci oleh Gusti Allah, bukankah rejeki seseorang yang berhak mengaturnya hanya Gusti Allah?... Jangan terus njuk sakwise njabat lan kuoso malah adigang adigung adiguno (setelah menjabat dan berkuasa malah sewenang-wenang dan menggunakan kesempatan dalam arti negatif), itu namanya mengkhianati amanat dan hati kawulo. Jangan pernah sekalipun menjadi pengkhianat amanat kawulo, ingat itu ngger Subayud.

Seorang pemimpin juga ibarat sebuah wadah besar, siap menanggung beban , keluh kesah, kesulitan para kawulonya, siap berkorban untuk kawulonya dan sebagainya. Menjadi pemimpin yang benar dan lurus memang sulit dan teramat sulit, lha kalau sekedar jadi pimpinan itu gampang lha wong tinggal mrintah je.. pimpinan dan pemimpin itu beda, pimpinan dibatasi waktu formal sedangkan pemimpin itu tidak dibatasi waktu formal, kapanpun, saat apapun selalu berlaku. Berdasar kemampuan formal dan kepinteran seseorang bisa jadi pimpinan, tapi belum tentu bisa menjadi seorang pemimpin. Seorang pemimpin selain memiliki kemampuan tetapi juga jiwa dan hati, sehingga segala tindak tanduk, perilaku dan perbuatan, pikiran dan perasaannya mampu dijadikan panutan, mampu memberikan kedamaian, mampu menggerakkan, mampu memberi jalan keluar, mampu berkorban, mampu merasakan apa yang dirasakan kawulonya dan sebagainya. Pemimpin itu jauh dari sikap adigang adigung adiguno sehingga tanpa disadari olehnya ada rasa nyaman, tentrem dan damai yang dirasakan kawulonya jika berada dekat sang pemimpin tersebut.


Pesan saya untuk Angger Subayud, pimpinan itu orang pinter, tetapi pemimpin itu orang ngerti, paham tho ngger maksudnya?... nggih mbah sahut lurah baru, jadilah seorang pemimpin yang memiliki hati yang mengerti dan bijaksana, pemimpin yang berpengertian dan berhikmat, tulus rela mengabdi dan berkorban demi kawulonya secara adil, niscaya berkat Gusti Allah tidak akan pergi darimu dan tanah perdikan yang kita cintai ini. Akhir kata selamat mengemban amanat, kami akan selalu bersamamu dalam menjalankan amanat, dan kami yang para orang tua-tua ini juga akan selalu mengawasimu jika kamu melencengkan amanat yang diberikan.


Selamat bertugas, sejahterakan kawulo, makmurkan perdikan, ciptakan selalu kedamaian dan ketentraman, bangun tanah perdikan tercinta ini dengan budaya gotong royong dan semangat mudamu, Gusti Allah pasti bersama kita selalu, Amin....



Kamis, Juli 02, 2009

REKIBLIK ETEKEWER V - PAHLAWAN KESURUPAN

Sejak pagi tadi simbah sudah sibuk merawat perkutut peliharaannya. Le…simbah bantuin merawat perkututnya…lha monggo mbah, perkutut yang sudah simbah mandikan makan dan minumnya ditambah, kalau sudah dijemur dan dikerek di tempatnya masing-masing, lhak yo apal tho nggon-nggonane?...ojo keliru …(hapal khan tempat-tempatnya?...jangan keliru). Nggih mbah…lha ya mesti hapal dan paham tho mbah, setiap hari melihat lingkungan sekitar jhee….Ya sudah simbah nglanjutin mandikan yang lainnya ya…., monggo mbah (silahkan mbah)….simbah bagian mandikan saya bagian nambahin makanan minuman dan ngerek (ngerek=menaikkan diatas tiang seperti mngerek bendera).


Lha ngono kui jenenge kerjasama seng apik tho le…(lha kalau seperti itu khan namanya kerjasama yang baik tho le…). Paham nggak le yang namanya kerjasama…simbah menanyakan ke cucunya sambil tetap beraktifitas, nek coro boso sekolahmu opo le, simbah lali jhee…(kalau dalam bahasa sekolahmu apa le, simbah lupa jheee..). ooo…lha ya mesti paham tho mbah, kalau bahasa kerennya team work, apa le …simbah kurang jelas…team work mbah….ooo timweg…yo…yo…yo…timweg (simbah dengan pedenya mengucapkan padahal rada keliru he…he…he…), yang simbah maksud paham nggak maknanya bukan definisinya lho….(wuuuikk…simbah mulai rada nglondho dikit).


Kerjasama atau timweg koyo istilahmu (kaya istilahmu) itu memiliki makna ibarat satu tubuh, semua bagian tubuh memiliki bentuk dan fungsinya yang saling berbeda namun melengkapi menuju pada satu tujuan, apakah itu keinginan, kehendak dan sebagainya yang berjalan secara serasi dan selaras. Lha kalau salah satu bagian dari tubuh tidak berfungsi maka akan terjadi ketimpangan, akibatnya keserasian dan keselarasan itu akan terganggu. Lha kalau kamu tanyakan mana yang paling penting, ya semuanya sama-sama penting, tidak ada bagian yang lebih penting dari yang lainnya, semua sama-sama penting karena memiliki fungsi dan tugasnya masing-masing, mana yang paling berjasa...ya semuanya berjasa, sebab itu hasil fungsi kolektif. (wwuuuikkk…nglondho lagi)


Lha iya ya mbah, kalau makna mendasar tersebut dipahami dengan baik oleh setiap orang yang menjalankan tugas khan ya mestinya tidak akan terjadi ujur-ujuran (rebutan) bahwa dirinya yang paling berjasa ya mbah, seperti yang terjadi di Rekiblik Etekewer itu…. Inilah le…ini bukti bahwa kata “tanpa pamrih dan gotong royong” itu sudah tidak lagi ada di kasanah kosa kata mereka, jadinya ya begitu itu…lha ironis lagi kalau sudah sukanya ngaku-ngaku berkat jasa perbuatannya…wach parah lagi itu namanya…. Bukan lagi sebagai pahlawan kesiangan tapi sudah pahlawan kesurupan !!!… (surup=senja, kesurupan=kesetanan).


Perilaku yang demikian itu juga menunjukkan sudah tidak adanya budaya malu, makanya suka mengaku-ngaku dan memperlihatkan jasa, orang yang sudah tidak memegang budaya malu sama saja orang yang sudah menggadaikan harga dirinya dengan murah alias obral. Hal seperti itu sudah jelas-jelas tidak mengikuti perintah Gusti Allah, bukankah Gusti Allah memerintahkan melalui firmanNYA, “..JIKA MEMBERI DENGAN TANGAN KANAN, TANGAN KIRI JANGAN SAMPAI TAHU…” ya kalau mau berbuat baik dan mengabdi ya berbuat baik dan mengabdilah dengan apa adanya, bukan untuk dipertontonkan agar orang-orang pada tahu kalau sedang berbuat baik, jika sudah begitu tidak ada nilainya perbuatan itu di hadapan Gusti Allah.


Coba le kamu bayangkan, Rekiblik Etekewer itu ibarat tubuh manusia, isinya tangan semua atau kaki semua atau mata semua dan sebagainya, apa ya bisa berfungsi dengan baik?...jangankan berfungsi dengan baik, malah nggilani kui…(nakuti itu), lha kalau sudah gitu cocoknya jadikan memedhi sawah aja buat ngusir hama burung he…he…he… Wes yo le ndhang diberesi kabeh…(sudah yo le diberesi semua).. kita sarapan dulu, mbah putri kayanya sudah selesai masaknya…lha monggo mbah….



Meraih Sukses Merdeka
www.bisnis-mesin-uang-internet.com

Rabu, Juni 10, 2009

REKIBLIK ETEKEWER

TANGISAN RAKYAT & JOGETAN MUNYUK


Sore ini sedikit kelabu pertanda sebentar lagi anugrah turun dari langit untuk para petani seperti simbah. Diusia yang tidak bisa dibilang muda lagi simbah masih tekun menggarap sepetak sawah tadah hujannya, guna keperluan hidup sekaligus pengisi hari tua.


Le sini sebentar le...seraya memanggil cucu kesayangannya yang masih asyik berkubang lumpur membantu di sawah... nggih mbah (ya mbah-jawa) sebentar tanggung dikit lagi selesai jawab si cucu sambil menyeka keringat yang membasuh sekujur tubuhnya.... Sambil menunggu cucunya datang simbah mulai melinting rokok klembak menyannya di gubuk mungil tempat biasa istirahat. Simbah terlihat sangat menikmati hisapan demi hisapan rokoknya sambil mendengarkan musik klenengan jawa dari radio dua band yang tidak pernah ketinggalan setiap kali ke sawah.


Wonten nopo tho mbah (ada apa tho mbah-jawa) kok sepertinya penting banget si cucu mendekat seraya menyapa. Ini lho le, pinggang simbah kok rasanya agak sakit, mbok coba dipijit biar sembuh...simbah sich kalau diberi saran nggak mau dengerin, mbok ya nggak usah terlalu sering turun kesawah, usia seperti simbah kan perlu banyak istirahat, ya kalau mau kesawah cukup ngawasi dari gubuk aja. Pikiranmu itu benar le...tapi menurut kamu, lha wong simbah kalau tidak gerak justru badannya malah jadi pada sakit semua je... ini yang dinamakan orang jawa itu “bener neng ra pener” (benar tapi tidak tepat).


Lha tadi simbah ngapain kok tahu-tahu pinggangnya sakit... ooo tadi simbah waktu membungkuk ngambil rumput liar terus langsung tegak gitu aja, wach... jangan-jangan simbah kecetit (keseleo-jawa). Ya kalau cuma kecetit otot saja nggak apa-apa tho le, toh nanti setelah kamu pijitin juga sembuh. Itu tidak seberapa le jika dibandingkan sakitnya kecetit hati, susah le disembuhkan...


Wach kalau masalah kecetit hati, rakyat sudah lama merasakannya mbah... betapa tidak, rakyat yang harusnya menjadi subyek, bagi penguasa justru hanya sekedar dijadikan obyek kepentingan mereka, lhak yo kuwalik tho mbah (khan ya terbalik tho mbah-jawa). Bayangkan mbah harkat dan martabat rakyat justru dirampas oleh pemimpin dan oknum pejabatnya sendiri, bukan bangsa lain mbah....


Konon katanya sich mbah bahwa pemimpin itu ada karena rakyat, semestinya khan mengemban amanah rakyat tho mbah, lha ini nggak je... aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri, rakyat yang mana ?.... wach jan jaman setan ... sicucu mengomel.... tunggu-tunggu...kamu ini kok malah jadi ngomel-ngomel gitu tho le... mbok ya yang sabar... ya kalau di Rekiblik Etekewer sedang dipenuhi setan yang pada berkuasa mbok ya pada ndedonga kabeh ngono.. (berdoa semua gitu-jawa) minta Gusti Allah membantu menyelesaikan permasalahannya... lha wong Gusti Allah itu tidak pernah menolak yang berdoa minta pertolongan padaNYA kok apalagi demi kemaslahatan rakyat... beda sama penguasa, minta tolong harus pakai embel-embel...


Mbah ada berita dagelan munyuk (monyet) terbaru nich mbah, konon di negri Rekiblik Etekewer sekarang lagi marak-maraknya berita para wakil kawulo (wakil rakyat) katanya....lagi-lagi katanya lho mbah mewakili rakyat, benarnya ya mbuhh....(benarnya ya nggak tahu) sedang sibuk mencari manfaat untuk kepentingan diri mereka sendiri tapi diplesetkan sebagai bentuk kenang-kenangan, hal ini dilakukan mengambil moment masa jabatan yang sebentar lagi usai. Nggak main-main lho mbah hanya untuk kenang-kenangan harus mengeluarkan uang rakyat yang jumlahnya tidak sedikit, menghitungnya aja aku mungkin nggak sanggup mbah, saking banyaknya. Bisa simbah bayangkan, berapa banyak jika per orang 10 gram emas mbah... lha wong jumlah wakil kawulo (katanyaaaa....) sampai ratusan orang je, totalnya simbah bayangkan sendiri....


Wharakadah....lho katanya mengemban amanat sebagai wakil kawulo le, itu kalau dijalankan dengan benar merupakan sebuah tugas yang mulia, “kalau dengan benar” lho... besar pahalanya le.... Apa mereka itu dalam tugasnya nggak dibayar apa le.... waalaahhh mbah bayarannya jauh lebih besar dari gaji para buruh setahun, bahkan kalau apa yang didapatkan wakil kawulo itu dikumpulkan sejak awal tugasnya sampai selesainya, mungkin buruh perlu reinkarnasi 21 kali untuk bisa menyamai, bisa mbah bayangkan khan?... belum lagi setumpuk fasilitas ini itu yang dengan alasan dan dalih untuk memperlancar tugas... pokoknya ya itu tadi mbah perilaku ”dagelan munyuk” yang selalu dipertontonkan, rakyat bukan lagi hanya sekedar kecetit hatinya tapi malah sudah neggh (muak).... walaupun ada yang masih tetap bertahan dengan nuraninya, menjalankan amanat rakyat dengan tulus dan baik, tapi jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari, mereka ini tergilas sama perilaku-perilaku rakus tadi mbah.... Wach nek ngono setane jingkrak-jingkrak no le mergo akeh bolone (wach kalau gitu setannya jingkrak-jingkrak donk le karena banyak temannya), perilaku yang kamu ceritakan tadi kalau di jawa itu dikenal dengan istilah perilaku “seng ora empan papan” (tidak pada tempatnya).


Kalau direnungkan sungguh ironis yang terjadi di Rekiblik Etekewer ini mbah, bagaimana tidak, belum usai duka musibah kecelakaan pesawat yang bertubi-tubi dan membawa korban jiwa, belum usai linangan airmata keluarga yang ditinggalkan, wilayah sebagai bagian kedaulatan bangsa yang mulai diusik-usik maling, warga negara yang dianiaya dan disiksa oleh bangsa lain (apa gunanya DUBES??!!!...), semua itu belum usai mbah, belum usai.... belum lagi rakyat yang sedang kesulitan pangan, segala sesuatu serba mahal baik pendidikan, kesehatan dsb, belum lagi pelayanan publik yang tidak profesional dan dipenuhi oknum-oknum korup, pajak rakyat untuk menggelembungkan perut sendiri bukannya kembali pada rakyat secara utuh, pokoknya masih banyak lagi lah mbah permasalahan yang harus mendapat perhatian... eehh mereka yang katanya wakil kawulo malah sibuk “berdagelan munyuk”. Anggaran untuk hal-hal yang sangat penting seperti peralatan untuk menjaga kedaulatan negara & bangsa, pendidikan & kesehatan rakyat, pengentasan kemiskinan dsb malah kalah besar dari anggaran untuk foya-foya fasilitas segelintir pejabat... oaalaaahhh.... geblekk...


Le... kalau sudah begitu dikembalikan kemakna orang hidup itu untuk apa tho le... perlu diingat Gusti Allah tidak pernah menciptakan wilayah abu-abu, hanya menciptakan wilayah hitam dan putih titik. Wilayah abu-abu itu kan manusia-manusia yang menciptkannya demi kepentingan dirinya maupun kelompoknya. Banyak cara dan dalih yang dilontarkan, tetap saja itu dalih walau kesannya sesuci apapun, yang namanya dalih menyiratkan makna tersembunyi yang tidak seperti tampaknya. Jika sudah begini jangan pernah berharap untuk manfaat dan kemaslahatan rakyat secara utuh. Makanya le...jaman simbah-simbah dulu, jika mau memilih pemimpin selalu didahului dengan laku prihatin agar suci memohon petunjuk Gusti Allah, siapa orang yang dipilih oleh Gusti Allah, sehingga dalam kepemimpinan orang pilihan tersebut rakyat merasakan tentrem, aman, makmur dan sejahtera.


Lha kalau tidak salah dengar katanya di Rekiblik Etekewer sedang ada hajat besar memilih pemimpinnya tho le.... lha kok simbol bendera negrinya tidak terlihat ada berkibar?... biasanya kalau sebuah negri sedang hajatan besar, panji-panji dan simbol negrinya pasti dipasang dimana-mana, ini kok nggak le ?... Hhhmmmm... (simbah terlihat menggumam sambil mengeluas dadanya) kasihan para pejuang dan pendiri negrinya ya le, betapa sedihnya mereka jika melihat ini...


Satu hal yang perlu diingat dalam memilih pemimpin atau wakil kawulo, pilihlah yang sehat Roh, Tubuh dan Jiwanya, agar sehat kepemimpinannya, agar sehat kehidupan rakyat dan bangsa yang dipimpin. Banyaklah berikhtiar dan berdoa sebelum memilih pemimpin, sebab pemimpin yang tidak dikehendaki Gusti Allah akan membawa bencana dan celaka bagi rakyatnya, pilih pemimpin yang tidak mengkhianati sejarah bangsa & negaranya sebab sebuah negara dibentuk dan didirikan melalui pengorbanan jiwa, harapan, cita-cita & sumpah suci dari segenap komponen bangsa yang beragam.


Menyeragamkan sebuah bangsa yang beragam pada dasarnya adalah pengkhianatan, pengkhianat tidak akan pernah membawa kedamaian selain kesengsaraan yang berkepanjangan.


Yo le... kita ikut mendoakan semoga hajatan besar di Rekiblik Etekewer berjalan dengan baik dan damai, dan rakyatnya mendapatkan pemimpin yang sehati, senasib, sepenanggungan dengan rakyatnya, Amin... Selamat berhajat besar Rekiblik Etekewer.....




Selasa, Maret 24, 2009

Rekiblik Etekewer

TANGISAN KURSI KAYU vs NYANYIAN BADUT

Rekiblik Etekewer dalam hitungan hari akan memasuki sebuah babak lanjutan penentuan nasib lima tahun kedepan sejak merdeka 64 tahun lalu। Setelah 12 tahun peristiwa repotnasi, rekiblik ini telah berubah wajah. Wajah itu kini dipenuhi make up merk korupsi dan lipstik ambisi.

Hanya beberapa hari lagi Rekiblik Etekewer menggelar hajat tahunan, para badut sirkus dagelan pulitik berebut tebar pesona di panggung tanda tanya, mengumbar janji-janji dengan hati berbulu Apapun ditempuh dan dilakukan, mulai dari strategi tipu muslihat sampai penghamburan uang yang tak jelas asal-usul halalnya Demi berebut kursi empuk yang menjanjikan bagi perut dan ambisi para badut.

Konon sich kabarnya, para eyang pendiri rekiblik ini membuat kursi empuk itu untuk lidah amanat rakyat yang dititipkan pada yang mendudukinya, itu konon kabarnya lho, sekarang???.... ya jangan tanyakan… lho kok begitu, lha bagaimana tidak begitu, untuk duduk disitu saja cara-cara merampas hak orang, mengambil yang bukan miliknya, tipu sana sini intinya semua cara dilakukan kok, kalau dah duduk ya cari pulihan modal dan kenyangkan perut biar tambah buncit, perut buncit kan tanda sudah makmur tho….. Wach ternyata mahal juga ya harga kursinya, harus dibayar dengan segala macam cara biar dapat, tidak peduli apakah sesuai dengan kepantasan pranata atau tidak.

Beberapa waktu lalu masih ditengah masa pesta pora hajatan, media elektronik menampilkan kejadian di belahan lain dari Rekiblik Etekewer, jurusan timur tepatnya di kota Melintang ada sebuah sekolah yang juga berebut dan mempertahankan kursi dengan sengit.

Tarik menarik, perdebatan sengit saling tawar waktu tak terhindarkan. Tidak tanggung-tanggung para murid beserta gurunya harus mendekap kursi-kursi itu sambil menangis agar tidak diambil dari mereka, sebab kursi itulah satu-satunya yang dimiliki dan dipakai selama ini untuk merajut harapan masa depan yang belum tentu bersahabat pada mereka, bahkan sambil bersujud dalam doa mengucapkan kata yang terbata-bata sembari menahan isak tangis. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan hak perlindungan ketentraman di saat sedang ujian harus menanggung beban psikologis, bukan untuk kursi sofa empuk melainkan kursi kayu yang keras guna merajut harapan masa depan mereka dengan fasilitas sangat minim dan terbatas, tidak lebih.

Lagi-lagi jangan tanyakan ini salah siapa dan tanggungjawab siapa, lha wong sudah tahu sama tahu kan???..... yang paling pasti itu bukan beban tanggung jawab anak-anak sekolah tersebut. Jika sudah begini perilaku klasik memuakkan pasti ditampilkan di panggung yaitu saling tuding dan lempar tanggung jawab.
Satu lagi pemandangan yang sangat tragis dan ironis di Rekiblik Etekewer. Demi sepotong kursi kayu keras, fasilitas minim dan terbatas, harus dibayar dengan beban psikologis anak-anak dan sujud doa yang terbata-bata menahan sesak tangis, di tengah pesta pora para badut membeli kursi empuk, alangkah jauh lebih mahalnya kursi kayu keras di rekiblik ini……

Haruskah Rekiblik Etekewer menjadi sarang bagi manusia-manusia tak berhati???... Kursi empuk dan mewah dijual dengan harga teramat murah, badut saja dapat membelinya sambil tertawa tanpa menawar, namun kursi kayu yang keras dijual teramat sangat mahal, harus dibayar dengan isak tangis, sujud doa yang terbata-bata, beban psikologis anak-anak dan kegamangan akan masa depan.

Semoga kisah nyata ini menjadi sebuah pelajaran berharga guna Meraih Sukses Merdeka yang memerdekakan dan menyejahterakan, bukan sebaliknya.

( Andrey Subiantoro, Ir )